Tidak Selamanya yang "Berkuasa" Gila Kuasa






Untuk pendukung borjuasi barat, borjuasi oriental, borjuasi nasional, sampai borjuasi gurem...

Bicara Hak Asasi Manusia (HAM), tonggak berdirinya HAM bermula pada Piagam Madinah. Keunggulan peradaban Madinah dibanding Mekkah begitu kentara dengan konsep masyarakat madani yang digalakkan. Masyarakat yang dewasa, terkenal atas keberadabannya, kesantunannya, budi pekerti luhurnya, keterbukaan hatinya, toleransinya; tidak peduli apa status seseorang, apa warna kulitnya, etnisnya, pun kewarganegaraannya. Masyarakat yang menjunjung perdamaian. Arab tidak lebih tinggi dari non-arab, sebagaimana non-arab tidak lebih tinggi daripada Arab. Kulit putih tidak lebih tinggi dari kulit berwarna, sebagaimana kulit berwarna tidak lebih tinggi dari kulit putih. Superioritas diukur cukup dari jumlah kebajikan yang telah dilakukan orang bersangkutan.

Selang beberapa abad kemudian, Inggris mengklaim diri sebagai pengusung HAM dengan Magna Charta. Statuta terus-menerus direvisi, sampai lahir Deklarasi Universal HAM, kemudian addendum lain yang menjamin terhapusnya tindakan-tindakan diskriminatif. Di beberapa negara pun lahir — ada yang dikarenakan konkordasi, ataupun kesadaran untuk meratifikasi sendiri — beberapa produk hukum yang prematur karena ketergesa-gesaannya setelah desakan demonstrasi massa yang menuntut rezim otoriter turun.

Kita merasa menang, kita tersenyum, ada tangis haru, ada pesta pora, tapi lebih banyak kecewa dan nyinyirnya, ditambah bumbu-bumbu curiga dan duka. Terlanjur kita sinis pada kepemilikan komunal atas properti. Terlanjur kita khawatir dibuat manja tak mampu berdiri sendiri. Terlanjur kita khawatir diikat oleh masyarakat dan tak bisa menjadi independen etis. Terlanjur kita menuhankan diri sendiri sebagai ego, individu yang supreme.

Anehnya, dibalik bayang-bayang paranoid atas otorisasi transnasional, kita masih gunakan elemen HAM untuk menggempur HAM. Kita protes, memanfaatkan kebebasan berbicara di muka umum yang telah dipayungi hukum. Kita anti-HAM, karena punya persepsi HAM berasal dari barat, tanpa tahu sebenarnya asal mulanya dari timur, dari kerabat yang lebih dekat ke diri kita sendiri daripada ke asing. Karena kita anti-HAM, namun dengan ego-ego yang dijustifikasi HAM ala barat, kita jadi pembela HAM-nya orang-orang yang anti-HAM.

Cina Sosialis?

Sosialisme adalah komunisme yang lugu, atau, komunisme adalah sosialisme yang sadis. Cina lahir sebagai bangsa patrimonial, dengan keyakinan yang melekat pada budaya masyarakatnya. Wajar HAM hanya bisa tembus lewat celah-celah tipis dan sempit kebudayaan Cina, lewat proses filtrasi berkali-kali dari kebudayaan, prioritas pembangunan negara, sampai tahap terakhir disaring Partai Komunis Cina. Kondisi seperti itu memicu barat untuk memprovokasi melalui media menyatakan bahwa rakyat Cina merindukan pengadilan independen.

Ah, lucu. Apa mungkin seseorang bisa mengenang hal yang tidak pernah dia alami? Apa mungkin seseorang homesick pada rumah yang dia tidak tumbuh besar di dalamnya? Masyarakat Buddha Tibet menuntut dihapus diskriminasi atas kelompoknya. Tanpa ada Buddha, tak ada dinasti Qing, katanya. Lha, dari dulu ‘kan memang dinasti Han yang jadi pesohor?

Cina mengaku telah mereformasi hukumnya. Tapi atas nama “mengabadikan konstitusi”, hukum disaklek-kan dengan mengalegorikannya pada kewenangan diktator proletariat. Ada sebuah lembaga bernama departemen propaganda, tapi tugas kesehariannya justru membungkam propaganda. Untung-untungan juga di Indonesia majalah dibredel setelah sempat beredar, karena di Cina, sensor dilakukan tidak hanya pada masa jelang publikasi, tapi justru dikontrol, diawasi, dan diarahkan jauh sebelum masuk ke dapur redaksi. Media tak lain jadi corongnya Partai Komunis Cina. Sudah ditegaskan di awal, Cina adalah komunis yang sok sosialis.

Meskipun reformasi sudah bergulir, meskipun, legal substance sudah dijalankan, legal structure dan legal culture masih dibuai keragu-raguan. Sudah lewat satu dekade dan kita masih berdiri di persimpangan yang sama. Apa mau dikata, semua berakar dari kebejatan kok, pastinya terbuka pula masa depan yang sarat kebejatan.

Inggris v&rsus Cina

Alih-alih berkaca pada diri sendiri, Inggris selaku “pengusung” HAM memposisikan diri vis-a-vis dengan Cina. Padahal, Cina juga sedikit mirip sama dirinya, meng-AKU-kan sebuah negara. Sedangkan Inggris, meng-korporasi-kan AKU. Cina adalah borjuis politik, sedangkan Inggris borjuisnya ekonomi. Masing-masing memusuhi dirinya sendiri. Merasa suci karena punya konsep ideal soal kebersamaan, tapi apa gunanya kalau bentuk komunal dijadikan AKU.

Sosialisme tidak seperti itu, dan tidak sepatutnya dianak-tirikan karena figur-figur kolektivisme yang penuh kepura-puraan. Sosialisme bukan kita yang ke-aku-aku-an.

Disini kita tidak harus memusuhi HAM. Bukan pula memusuhi komunisme. Bukan juga memusuhi borjuasi. Bicara seperti ini pun bisa cukup percaya diri karena tahu dibentengi oleh hukum. Tapi, hal yang membabi-buta itulah yang selalu jadi masalah. Apalagi inkonsistensi yang membabi-buta. Semua terlalu melebur sampai tak punya karakteristik pembeda.

Justru yang ideal malah jika ada kamar-kamar, tapi pintu-pintu penghubung kamar satu dengan kamar lain senantiasa terbuka supaya tetangga bisa bebas berkunjung, dan tidak lupa pulang, sebagaimana kodrat sistem etikanya.

Yah, sudahlah. Sosialisme selamanya akan disangka ‘penguasa’ yang tukang terabas karena dosa orang-orang yang mengaku sebagai alumninya. Tapi selama sosialisme dianggap sebagai musuh bersama, selama itu pula jaringan-jaringan tak beretika bisa menggila di balik layar, dan bebas berpura-pura melebur di antara kita. Jaringan-jaringan yang sebetul-betulnya gila kuasa. Dan bisa jadi kita sudah terjun dalam permainannya.***
read more

Multitasking: keunggulan atau epidemi?




Tiap orang memiliki dua lobus frontal pada otak yang memungkinkan
mereka dengan mudah melakukan dua tugas sekaligus, tetapi jika
keduanya dibagi menjadi sepertiga, yang ada hanya kekacauan.
(Koechlin, 2010).

Pada masa pra-peradaban, manusia hidup dalam kesederhanaan. Belum ada teknologi, sedikit tuntutan, tekanan jiwa yang rendah, dan kebutuhan yang minim. Satu hal yang jadi pusat perhatian mereka hanya bagaimana caranya untuk bertahan hidup - dan hal itu bisa dicapai cukup dengan memenuhi pangan dan papan dalam skala proporsionalitasnya. Maka yang biasa orang purba lakukan setiap hari tinggal pergi berburu, mengolah makanan mentah untuk disantap, dan beristirahat, lalu melakukan hal yang sama esok hari dan hari-hari berikutnya. Suatu rutinitas yang diulang berkali-kali, bisa saja hingga penghujung hayatnya.

Tapi ada satu hal yang menarik. Saya berpikir, bisa saja rutinitas monoton - sebagaimana yang dipaparkan di atas - merupakan tonggak berdirinya peradaban. Monton yang dimaksud tidak serta-merta tanpa pertumbuhan. Manusia berkembang. Kemajuan peradaban dan perbedaan kontras antara masa kini dan masa lampau menjadi saksi bahwa manusia senantiasa melakukan serangkaian inovasi. Dan yang terjadi disini adalah sebuah masa transisi. Jika amoeba berkembang dengan membelah dirinya, maka manusia berkembang tidak hanya dalam ranah biologis, tapi juga gagasan yang sifatnya platonis.

Dengan tingkat fokus yang hampir mencapai 100%, manusia memiliki konsentrasi yang lebih baik untuk meraih tujuannya. Manusia tidak lagi hanya menjadi makhluk berpikir, tapi juga mengerti bagaimana untuk menelurkan pikiran-pikiran yang sebelumnya abstrak, menjadi suatu yang realistis dan dapat memberi efek positif bagi dirinya. Efek positif yang diharapkan adalah sesuatu yang dapat menunjang kemampuan dirinya untuk memenuhi tuntutan-tuntutan zaman.

Melalui konsentrasi optimal, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan menjadi singkat. Oleh karena itu, suatu hal yang lumrah ketika kita lihat mengapa pada masa revolusi industri di Inggris, dunia dibombardir oleh produk-produk teknologi mutakhir yang beraneka ragam jenis dan fungsinya. Makin banyak alat baru, makin banyak pula ruang-ruang keterampilan yang memaksimalkan fungsi dari alat-alat tersebut, atau kombinasi penggunaan teknologi satu dengan yang lain.

Setelah mempertahankan hidup (contoh: dari serangan makhluk buas) menjadi suatu hal yang mudah untuk ditempuh, mereka membutuhkan tantangan baru untuk memaknai hidup. Teknologi membuka lahan baru bagi lahirnya sebuah industri. Industri yang kelak menguntungkan manusia-manusia superior, tapi justru akan menambah beban kehidupan bagi manusia marjinal.

Pilihan biner

Mereka yang memiliki kehidupan standar-standar saja, dengan kemampuan ekonomi yang juga standar-standar saja, perlu memaksakan diri untuk memperkaya SDM-nya. Teknologi diciptakan untuk manusia, tapi kini banyak manusia merasa tidak ingin kalah dari teknologi. Kita telah tiba di suatu masa dimana manusia harus fokus tidak hanya pada satu hal saja, karena itu dapat menyisihkan dirinya dari kemajuan zaman. Pikiran yang semula terpusat pada sebuah pokok utama harus rela membagi diri dengan sebuah pikiran baru dengan porsi sama. Dan jika pun dua pikiran itu berbenturan satu dengan yang lain, tampaknya kita tidak dapat menghentikan diri sendiri.

Tapi Koechlin telah menyampaikan bahwa tiap otak manusia memiliki anterior dan korteks prefrontal medial yang memungkinkan seseorang berkompetensi melakukan dua hal dalam rentang waktu hampir serempak. Fokus pada satu hal, sementara menahan yang satunya lagi namun tidak melupakannya. Seseorang bisa bolak-balik dari satu tujuan ke tujuan lainnya dengan tingkat akurasi menakjubkan.

Lalu, bagaimana jika kita membagi dua lobus frontal tersebut pada tiga tujuan atau lebih?

Multitasking sebagai epidemi

Saya pernah menemui orang yang memiliki tiga pekerjaan sekaligus dalam hidupnya. Tentu saja, tiap pekerjaan memiliki waktunya sendiri yang tidak akan berbenturan dengan waktu pekerjaan lainnya. Atau, seseorang yang menyetir sambil mendengarkan musik juga sambil mengobrol di telepon genggam. Atau, contoh lain, dalam dunia mahasiswa, bisa saja seseorang - disamping kesibukan perkuliahan - bergabung dalam dua atau tiga organisasi sekaligus, dan menjadi presidium dalam organisasi tersebut. Atau, dalam suatu contoh yang lebih sederhana, saat ujian nasional, dalam lembar soal ada tiap pertanyaan yang disana kita harus memilih satu di antara lima opsi yang ada.

Apa yang terjadi?

  1. Kasus pertama: orang yang memiliki tiga pekerjaan punya masalah daya ingat rendah. Ketika dia fokus pada dua pekerjaan, dia melupakan sisanya. Dia dianggap lalai sehingga harus kehilangan satu pekerjaannya.
  2. Kasus kedua: Redelmeier dan Tibshirani (1997) telah meneliti bahwa penggunaan telepon saat sedang menyetir memiliki risiko kecelakaan empat kali lebih besar. Penggunaan dengan handsfree tidak berarti menurunkan risiko tersebut, karena yang melemahkan kognitifnya bukanlah tangan yang penuh, tapi percakapan kompleks atau emosional dalam telepon.
  3. Kasus ketiga: hampir sama dengan poin pertama. Ia membuat salah satu organisasinya terbengkalai.
  4. Kasus keempat: pada dasarnya manusia lebih menyukai pilihan biner. Ketika terlibat dalam tiga atau lebih pilihan, mereka tidak mengevaluasi secara rasional, melainkan menyeleksinya menjadi pilihan biner. (Koechlin, 2010)

Jadi, sesuai dengan potensi yang dimiliki manusia, membunuh tiga burung dengan satu batu adalah hal yang nyaris mustahil. Beberapa mungkin bisa, tapi dengan mengorbankan tingkat akurasi atau waktunya. Seseorang yang mengerjakan banyak hal - jika ingin dapat hasil memuaskan - cenderung melamban untuk menyelaraskannya.

Kita tidak bisa melarang seseorang untuk tidak mencari nafkah pada tiga ladang sekaligus, atau melarang seseorang memproses indera pendengaran dan visualnya untuk dua informasi berbeda. Atau, menahan seseorang untuk bergabung pada satu organisasi saja. Itu adalah kebutuhan pribadi yang akan selalu jadi pilihan, seberapapun besar resiko tumpang-tindihnya. Lagi, yang harus saya sampaikan, ini tuntutan zaman.

Orang-orang sering berpikir bahwa multitasker adalah orang jenius. Seperti komputer. Sedangkan, bahkan pada tataran praktik, untuk dua hal saja, masih saja ada orang yang gagal mencapai ekspektasinya.

Tapi barangkali kita telah menemukan jawaban atas peradaban kekinian yang tersendat-sendat dan tidak sepesat dahulu. Beberapa proses kognitif yang perlu justru dipasifkan. Kita, pada kenyataannya, kalah dari komputer. Atau lebih hinanya lagi, kalah dari smartphone.***

Didedikasikan untuk Wahyu Arifin: teman yang menyebalkan, tapi juga pendidik yang paling saya hormati karena dia yang mengajari saya menulis, dan menyuruh saya menulis sesuatu setelah vakum berbulan-bulan.
read more

Kita Semua Agak Gila

Pic source: fapic.net

Seorang perempuan tua, sebut saja namanya Mrs. Maynard, semasa hidup terkenal memiliki gagasan-gagasan radikal. Saking begitu beraninya gagasan tersebut, beliau pun terhitung orang yang punya pertahanan tinggi dalam menghadapi segala bentuk tekanan. Tapi, suatu hari dia menyampaikan pada semua orang kalau dia akan mati. Orang-orang bersikeras meyakinkan kalau dia sehat-sehat saja dan kondisi fisiknya masih bagus. Di malam harinya, dia benar-benar pergi... 

Sepenggal cerita di atas benar-benar pernah terjadi. Mungkin pula, di sekitar kita seringkali kita menemui orang dengan tingkat kecerdasan tinggi namun begitu mudahnya ia memutuskan untuk mati. Mrs. Maynard contohnya. Bukan kondisi fisik renta yang mengakhiri eksistensi bologisnya, tapi memang dia menghendaki kematiannya sendiri. Ini menjadi suatu bukti bahwa pertanyaan, “Haruskah saya melanjutkan hidup atau haruskah saya mati?” menjadi sesuatu yang terlepas dari idealisme atau ideologi jenis apapun. 

Mrs. Maynard merupakan korban dari keyakinannya sendiri. Militansinya membentuk ia jadi orang keras kepala. Tapi ketika dia terhubung dengan realitas seutuhnya, terpaksa ia dibenturkan rasa sakit yang menyayat hati. Seperti dalam hukum alam, seekor ikan yang begitu yakin ia perenang hebat, ketika ada arus deras, ia justru mati sebelum air benar-benar berhasil menenggelamkannya. Dalam kondisi ini, keinginan bunuh diri siapapun bisa unpreventable

Dalam kasus lain, seseorang tidak memilih jalan yang diputuskan Mrs. Maynard. Sebagian memilih sekadar menjalani hidup; tidak mati, tapi juga tidak hidup. Ia tidak memilih non-existence, tapi juga tidak menjalani hidup dengan kesadaran penuh. Saya, Anda, mereka, yang pernah bermesraan dengan realitas sebenarnya seperti itu. Ketika menjawab pertanyaan pilihan hidup/mati, kita yang memilih untuk jalan terus, hidup dengan menimbun ketakutan-ketakutan, lalu terus-menerus menyetrum daya nostalgia agar kian kuat. 

Inersia

Seringkali kenyamanan luar biasa datang ketika kita tiba di satu tempat yang punya banyak kenangan. Kita pergi ke SMA lama, bertemu sahabat-sahabat masa remaja, lalu kita membatin, “Aku merasa berumur belasan lagi.” Atau bagaimana gembiranya ketika kita pulang ke rumah orangtua setelah sekian lama, dengan harapan akan ‘ditimang-timang’ seperti yang kita rasakan saat kecil. 

Atau dalam kasus sebaliknya, bagaimana konflik dengan orang lain di masa kini mengguncang diri kita, tapi tidak pernah benar-benar membunuh kedekatan kita dengannya, meskipun jika terus berdekatan juga tidak mengubah kondisi menjadi lebih baik. Kita menjalani hidup bersama realitas secara parsial, dengan benang-benang kesadaran yang terputus-putus. Tak jarang, kepribadian kita pun ikut terfragmentasi. 

Kembali ke Realita dengan Benturan

Pada kenyataannya, sebagian dari pikiran kita tidak berada di masa sekarang. Sebagian dari kita mengikat diri pada nostalgia untuk melindungi diri. Sebagian dari kita terikat terlalu kuat hingga membiarkan nostalgia berada di luar kendali hidup; sebuah kondisi dimana proses transfer kenangan terjadi begitu masif besertaan dengan kenangan-kenangan buruknya, dan pada akhirnya menyabotase kenyamanan hidup kita.

Acapkali pertanyaan “Apa makna hidup?” timbul sebegitu sering. Seorang individu soliter membutuhkan lebih banyak energi untuk menjawabnya. Beberapa dari kita ketika menemukan jawabannya menjadi serius dan berjalan sesuai dengan maknanya, kadang kelojotan seperti rusa yang berlari-lari di padang terbuka menghindari singa. 

Pada titik ini, saya mulai berkeyakinan bahwa individu terwaras adalah individu yang benar-benar terhubung dengan realitas besertaan dengan imajinasi-imajinasinya tentang masa depan, bukan yang hidup mengikatkan diri pada masa lalu. Dan kabar buruknya, orang seperti itu tidak ada. 

Ini yang seharusnya diketahui semua psikiater. Yang psikiater ketahui hanyalah bagaimana cara untuk mencegah seseorang melakukan perbuatan merusak diri lalu menggunakan kalimat-kalimat persuasif yang bertolak dari pemahamannya soal idealisme pasien. Kadang cara bekerja seperti itu tidak berhasil. 

Juga inilah yang tidak kita pahami dari orang lain; sepintas kita melihat ia begitu bahagia dan penuh kepuasan hidup, tapi itu sekadar kulit luar telur saja. Kita semua, pada dasarnya, agak gila.***
read more

Ikut Timur atau Barat



(Diam-diam, ternyata,) kita orang timur. 

Siapapun dari kita pasti tahu Kerajaan Kutai yang berdiri pada abad IV masehi menjadi pelopor kerajaan-kerajaan sesudahnya. Kita juga pasti tahu kerajaan bercorak Hindu tersebut dibawa oleh para pedagang India. Singkat kata, setelah jaman prasejarah kita sepakat bahwa urat akar sikap sosial dan mentalitas budaya ketimuran bagi Indonesia ‘sempat’ jadi harga mati; tanpa terkecuali setelah lahirnya kerajaan-kerajaan Islam. 

Tak usahlah kita membeda-bedakan timur Cina atau India. Dua-duanya sama-sama mengakui adanya struktur sosial―bukannya dari pengusaha-pengusaha heroik seperti di dunia barat, melainkan dari hal yang lebih genuine dari manusia. India menyatakan strata tertinggi ditempati orang-orang yang mengikuti dewa, dan Cina menyatakan Kaisar sebagai penyembah dewa agung (sekte negara), sedang rakyatnya menyembah leluhur kaisar-kaisar terdahulu. 

Maka, bisa kita pahami mengapa pada masa kerajaan, bangsa ini menjadi bangsa patrimonial. Segala tindak-tanduk rakyat (yang saat itu religius) adalah buah instruksi pemimpin, mengingat raja dijadikan pemimpin tertinggi karena dia imamnya agama. Sementara rakyatnya masih dibuai ekstasi keagamaan, raja dapat berpikir lebih rasional dengan membiarkan mistisisme hanya selama ia dapat digunakan untuk mengendalikan massa. 

Tapi, barangkali ketika raja mencoba menuangkan pemikiran rasionalnya dengan meresepkan cara hidup lewat dogma agama menjadi serba kebablasan.

Seiring surutnya kekuatan kerajaan dan invasi ksatria-ksatria Eropa, rakyat mulai kecewa pada dunia mistis. Bisa jadi, karena raja tidak sesakti yang mereka pikirkan. Bisa jadi juga mereka sudah muak pada birokratisasi karena kontrol sosial ternyata begitu merugikan. Atau bisa pula, keyakinannya menjadi senjata paling mumpuni untuk menyerang dirinya sendiri; maksudnya, dari paham ketimuran mereka mempelajari bahwa pihak yang memiliki prestise dan kekuasaan, meskipun minoritas, harus diikuti. 

Masyarakat bosan dengan irasionalitas "menyebar kebaikan pada sesama agar diberkati Tuhan". Ditambah lagi, mereka yang kesulitan menyesuaikan pandangan dunia baru yang lebih materialistis, memilih memodifikasi semangat ilahi agar melahirkan nikmat rasional. Agama tidak lagi menjadi hal yang tercerai dari urusan duniawi, melainkan bagaimana caranya mereka mengkonstruksi adanya predestinasi tentang kesuksesan duniawi. Agama selamat dari pengecualian, lebih dari itu, justru ada produk sampingan kekuatan inti yang memupuk agama.

Jadi, jangan heran, konsep monoteisme yang telah dikonversi menjadi lebih universal, populer, dan sesuai keinginan justru melahirkan masyarakat materialis. Stratifikasi yang dibangun dari tingkat kenabian berubah jadi jumlah kepemilikan sumber daya material. Individu-individu yang akhirnya menguasai orang lain bukanlah orang asing ataupun individu yang mengisolasi dirinya, melainkan ia adalah orang yang lahir dari cara-cara hidup yang dibangun oleh kelompok manusia.

Saya tidak sedang mencoba mengatakan budaya mana yang lebih baik. Sebagaimana kapitalisme mengontrol diri dengan tidak menyia-nyiakan uang lewat amal cuma-cuma ataupun hidup mewah, dan lebih menyukai investasi, maka timur juga menghambat mobilisasi vertikal dengan menutup perkembangan status lewat keturunan. Dua-duanya sama-sama tidak menentang akumulasi kekayaan.

Di luar dari itu, saya melihat adanya gejala "kebosanan" dan kekecewaan kedua dari etika agama yang dibawa barat. Alih-alih mencari produk sampingan ketiga, masyarakat kian acuh tak acuh pada agama. Dari situ bercabang di bawahnya; masyarakat acuh tak acuh yang lebih menyukai pengusaha dibandingkan birokrat: kapitalisme borjuis mungil dalam kemasan keserakahan belaka. Satu lagi masyarakat acuh tak acuh yang tidak menyukai pengusaha sekaligus birokrat, tidak mengabdi pada agama, menolak pengejaran kekayaan harta dan benda.

Value judgment tidak lagi ada. Tak ubahnya hal-hal yang irasional,  rasionalisasi juga melahirkan produk-produk ekstasi baru. Perkembangan inovasi-inovasi sosial layu. Dahulu, pengendalian diri tetap ada ketika kapitalisme memupuk agama. Tapi, kini ketika agama dikecualikan, masyarakat terdorong ke arah materialisme konsumtif. Kita miskin identitas. Kita jadi orang barat yang sok timur. Atau rata-rata, jadi orang timur yang sok kebarat-baratan.
read more

Kepemimpinan Lemah Menurunkan Motivasi

Sumber: http://4espanol9.wikispaces.com



Kepemimpinan yang lemah dari segi performa maupun keahlian acapkali melahirkan atmosfer negatif, inkonsistensi, serta hal-hal di luar ekspektasi yang terjadi secara terus-menerus sehingga dapat menurunkan motivasi dan kesetiaan anak buahnya dalam pekerjaan.


            
Globalisasi telah membuat sifat individualistik menjadi begitu lumrah ditunjukkan terang-terangan, bahkan menjadi pedoman berperilaku, termasuk perilaku berorganisasi. Di abad ke 21 ini, kita bisa melihat ketimpangan perbedaan pemimpin kuno dengan pemimpin modern. Sejauh penilaian saya; Napoleon, Lenin, Soekarno, dan beberapa pemimpin lain (yang sering dituduh fasis) begitu memantau secara hati-hati orang atau badan-badan yang bekerja di bawahnya. Kalau bisa, mereka turut campur sejauh yang dimungkinkan agar segalanya berbuah sempurna. Sementara kebanyakan pemimpin di zaman modern bekerja di belakang, atau di samping (atau tidak dimana-mana), jelasnya, kebanyakan dari mereka menganut prinsip Lassez-faire (biarkan semua terjadi).
            
Saya bisa pahami, mungkin mereka telah melihat bagaimana kepemimpinan tukang atur menimbulkan banyak masalah signifikan. Sehingga sebagai jalan paling bijak, mereka memimpin sedemokratis mungkin. Permasalahannya, tidak semua pemimpin benar-benar mengerti demokrasi pada tataran teknis. Belakangan ini sering saya lihat kepemimpinan demokratis yang justru berakhir kebablasan. Di satu sisi, bisa jadi lewat sistem demokrasi ini pemimpin mengambil untung agar jobdesc-nya berkurang. Di sisi lain, barangkali, demokrasi yang terlanjur liar itu berubah ganas sehingga pemimpin jadi takut bertindak meskipun sekadar untuk membuat segalanya lebih teratur.
            
Implikasi lain, jika terjadi kegagalan fatal dalam tubuh organisasi, maka pemimpin bisa sewenang-wenang menyalahkan orang-orang di bawahnya―ya, mungkin benar itu kesalahan mereka, tapi ada baiknya ia mengkaji ulang. Ketika demokrasi mengambil alih, maka setiap pemimpin seminimal mungkin turut campur dalam pelaksanaan program atau proyek, bahkan kalau bisa tidak kerja sama sekali dan tinggal terima jadi. Sehingga ketika hasil yang muncul tidak sempurna, jelas pemimpin yang bersangkutan (orang luar) bisa menyalahkan dan tidak perlu memikul tanggung jawab karena tidak turut berpartisipasi dalam proses. Lebih-lebih mengcounter dengan senjata sensitif, mengcounter sifat individualistis orang-orang yang ia pimpin.
            
Inilah bagian paling membahayakan. Niat awal mungkin dilandasi prinsip-prinsip mulia demokrasi, tapi ketika terdapat kesalahan, prinsip tersebut termentahkan dan secara otomatis diganti hubungan yang lebih parah dari otoritatif, yaitu abusif. Sementara orang-orang di bawahnya tidak menyadari pergeseran itu, karena mereka masih menganggap demokrasi jadi landasan sehingga mereka cenderung mengikuti kehendak pemimpin tadi, yaitu menyalahkan diri sendiri, dan terus-menerus terjungkal dalam lubang sama lebih dari satu kali. Dalam kasus lain, bila staffnya menyadari kejanggalan tersebut, mereka tumbuh menjadi tim yang sinis pada pemimpin karena inkonsistensi yang muncul melambangkan sang pemimpin tidak benar-benar serius dengan ucapannya. Anak buah berubah pesimis, pemimpin mencemari kredibilitasnya sendiri.
            
Pemimpin keras kepala berubah tolol dengan mengabaikan atau meminimalisir dampak kritik-kritik miring kepada organisasi, bagaimanapun caranya. Padahal, lahirnya kritik membuka jalan menuju eksplorasi solusi. Jika pada zaman modern ini, pemimpin bukan lagi dipilih karena ke-tua-annya, maka artinya pemimpin masih dan harus tumbuh. Apakah yang membuat ia tumbuh? Masukan.
           
Dengan demikian, ketika ia menyambut baik masukan yang diberikan kepadanya―dengan mengakui bahwa kinerjanya juga turut berkontribusi tidak hanya dalam keberhasilan tapi juga kegagalan organisasi―maka dia telah menunjukkan pada orang-orang yang ia pimpin, bahwasanya mengambil risiko adalah perlu dan belajar dari kesalahan itu penting. Seperti yang pernah dikatakan pakar kepemimpinan M. Kouzes dan Barry Posner, “Pemimpin harus memberi contoh, jika tidak memberi contoh, maka dia sama sekali tidak memimpin.”
            
Pemimpin harus mendemonstrasikan apa yang mereka rasakan, pikirkan, dan lakukan. Ia harus mendefinisikan secara jelas prioritasnya serta strategi untuk perbaikan dan rencana aksi. Ketika seorang pemimpin gagal mengkomunikasikan secara jelas apa yang ia inginkan, maka orang-orang akan membuang-buang waktu dan tenaga untuk berasumsi dan seringkali berujung pada kesalahpahaman dalam menafsirkan kehendak pemimpinnya. Organisasi jadi tergelincir ke dalam sebuah model operasional, sementara akar permasalahan sebenarnya justru terletak pada miskinnya strategi, rencana, dan aksi.
            
Persiapan yang layak inilah yang paling penting, karena kualitas pengalaman orang-orang di bawahnya itu bergantung pada kualitas pemimpinnya. Dampaknya, orang-orang di dalam tim menjadi punya kesempatan untuk menimba pekerjaan yang jauh lebih menjanjikan, sebagai keuntungan positif dari pengalaman berkualitas yang telah mereka dapat.
read more

Terbuai Dalam Sistem

source: sodahead


John Dewey, imam besar pendidikan Amerika Serikat di masa hidupnya ngotot mendengungkan pendidikan progresif. Pendidikan progresif dimaksudkan terpengaruh oleh ide-ide pragmatisme, dimana makna dari ide-ide hanya dapat ditemukan dalam tahap praktek―yang kemudian diakui sebagai hasil dari ide-ide. Jadi, untuk membidik sasaran tersebut, ia menawarkan konsep pendidikan progresif dimana teori pendidikan mendukung belajar aktif. Dia, selaku progresifis, menekankan bahwa gagasan harus diuji ke dalam bentuk eksperimen. Progresifis melihat sekolah sebagai komponen penting perubahan sosial.

            
Tipikal pendidikan yang dikritik John Dewey saat itu sangat menekankan metode disiplin, yang menunjukkan sekolah harus memberikan pengaruh positif pada masyarakat, namun berpegang pada prinsip-prinsip konservatif―sehingga bagi Dewey, sistem tersebut akan membingungkan jika ingin dikaitkan pada perubahan sosial. Padahal masyarakat selalu berubah silih berganti, dan dalam gagasannya, Dewey mengungkapkan bahwa pendidikan mencerminkan, menghasilkan, dan memandu perubahan sosial.
            
Seperti hal yang terjadi dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini (terutama perguruan tinggi), pendidikan tidak mempengaruhi tatanan dan perubahan sosial. Pendidikan hanya mencerminkan tatanan sosial dalam arti: siapa yang berpendidikan, ia memiliki hak prerogatif untuk mendominasi kelas ekonomi. Pendidikan hanya boleh terlibat membentuk masyarakat sejauh ia memiliki mentalitas, keyakinan, keinginan, dan tujuan yang sejalan dengan sistem kapitalis saat ini. Alhasil, jika setiap kudeta dari kelas ekonomi yang dominan membawa perubahan seperti perubahan moral, mental, dan budaya pada masyarakat, itulah perubahan yang dikirakan diciptakan pendidikan. Boleh dipercaya, sistem baru/tatanan sosial yang dibangun dari jerih payah kelas ekonomi dominan itu akan lebih dapat bertahan dan berkembang. Inilah jenis perubahan yang sering digambarkan sebagai “ayunan ke kanan”.

Penelitian, penerapan, dan pengembangan
            
Bagi Dewey, demokrasi memegang peranan penting dalam pengaplikasian ilmu ke masyarakat. Pendidikan harus berdiri pada prinsip dan kesempatan yang selaras dengan masyarakat.  

Bagaimanapun, apapun konsepnya, entah itu konservatif ataupun progresif seperti pemikiran Dewey, ajaran sistematis yang mereka usung sama artinya mempengaruhi pikiran siswa/i dengan memberikan kesan tertentu mengenai pandangan terhadap politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Sedangkan, metode pengajaran yang lahir dari indoktrinasi tidak pernah benar-benar terbukti membawa efek perubahan sosial.

Nilai interpretasi keilmuan idealnya bergantung sepenuhnya pada karakterisasi dan pengalaman dan persuasi koresponden sendiri. Bukan lewat permainan teks-teks dalam kehidupan sosial kontemporer yang tidak refleksif. Hal itu justru membuat kesempatan eksperimen gagasan dan ruang aktif partisipasi menjadi semakin sempit. Di titik akhir, ide-ide John Dewey, yang tadinya bicara soal “pilihan suakarela” untuk menyatukan seseorang/sesuatu ke masyarakat jadi terpental. Signifikansi praktek dalam satu dekade jatuh ke dalam suatu bentuk otoritatif.

Implikasi negatif
            
Pendidikan dalam tafsir dua pihak yang berbenturan di atas, melahirkan masyarakat muda ortodoks modern, yang memang berasal dari apa yang disebut “kanan”. Sikap-sikap ini terlihat jelas dari: pertama, gegap gempita terhadap budaya barat yaitu pendidikan sekuler; kedua, pandangan terhadap politik nasionalisme, yaitu Zionisme dan negara Israel berkenaan dengan tanah air portabel mereka.
            
Dengan antusiasme yang agak berkurang dari era sebelumnya, mereka masih menghadiri kuliah, semata-mata karena terpengaruh paham utilitas di Amerika: membludaknya kebutuhan gelar sarjana, bukan kesarjanaannya.
            
Di satu sisi, berlainan arah dengan mereka, masih ada pemuda/i yang dapat berpikir fleksibel, namun bersyarat. Masing-masing dari mereka menganggap perkembangan bisa cepat terwujud jika mereka se-‘agama’ (sama-sama kiri, atau sama-sama kanan).

Keduanya mungkin hidup bersama-sama, memiliki kesamaan yang banyak, tapi pada saat yang sama mereka jelas terpisah. Masing-masing memiliki cara hidupnya sendiri, perilakunya sendiri, dan itu mereka transmisikan dari sekolah, ruang-ruang informal di rumah, dan di jalan, kemudian mengakulturisasikan semuanya agar dapat saling melengkapi dan memperkuat orang-orang di kelompoknya. Tidak masalah, ini kealamian yang tidak terhindarkan.

Semakin saya belajar menjadi mereka, semakin saya yakin bahwa memang, saya harus belajar sendiri dan membentuk masyarakat sendiri. Jadi saya harus melalui fase mimesis untuk dapat mencari keunikan. Suatu tradisi ganda intelektual. Motif lain yang memicunya, kita kehabisan ide tentang “barang-barang baru” yang bisa diterima saat ditawarkan ke masyarakat makmur.
            
Sekarang, bahkan interpretasi yang tidak berangkat dari persuasi masyarakat dianggap wajar dan dibiarkan merajalela. Ia mungkin mampu memetakan sumbu, tapi membuat praktek jadi berdiri sendiri dan bertentangan dengan tulisan-tulisan normatif. Sementara kata-kata kita masuk ke telinga-telinga tuli, dan tidak memberi dampak apa-apa, sekalipun itu kata-kata yang paling ilmiah.
            
Apa mau dikata, kita jadi mengkambinghitamkan metode repertoar yang telah digariskan komponen pendidikan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika ada yang meminta akurasi, kita kemudian kebingungan karena terjebak antara dua sisi: di bangku pendidikan kita mengenali yang akurat/logis pasti tekstual, sedangkan kita tidak bisa serta-merta mengabaikan pengalaman-pengalaman realistis yang telah mengkarakterisasi diri. Apatah yang logis bagaimanapun selalu lebih dapat dipercaya daripada yang tidak masuk akal, meskipun itu realistis.
            
Perubahan yang cenderung dipaksakan itu, pada akhirnya tidak selamanya dapat membuat masyarakat bergerak ke arah yang benar, atau bisa jadi mengarah ke deformasi, sehingga, selaku orang berpendidikan, kita tidak bisa terus mempengaruhi masyarakat. Metode ilmiah dan pengajaran harus sesuai dengan kekuatan budaya supaya dapat menyebabkan perubahan sosial. Jika kebiasaan itu sifatnya statis, maka baiknya pengetahuan teoritis bersifat dinamis, sedangkan ide-ide alamiah seharusnya menekan pada kesimpulan logis. Dengan ini diharapkan pandangan kita akan berubah, sehingga dapat memeperluas konsistensi dunia seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya.
read more

Quo vadis, onymous?

Source: NYTimes eXaminer

            

Sebagai seorang calon sarjana hukum (yang mungkin beberapa dari kita akan terjun ke dalam dunia advokasi), istilah sumber anonim tidaklah asing di telinga kita. Seorang advokat seringkali terikat dalam sebuah kesepakatan untuk menyimpan rahasia klien yang sering disebut dengan hak istimewa klien.
            
Sebagaimana yang terjadi dalam lingkungan kita, untuk proses penyebaran informasi juga  kadangkala melibatkan sumber anonim, terlebih jika kemungkinan terungkapnya identitas sumber akan memberi dampak ancaman serius atau bahaya keamanan pada individu yang bersangkutan. Beberapa outlet berita bersikeras bahwa sumber-sumber anonim adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan informasi tertentu−mengingat metode terbuka kadang tidak memberikan informasi penting kepada publik.
            
Tapi dalam beberapa kasus, keberadaan sumber anonim malah justru menimbulkan fabrikasi, apalagi jika informasi langsung disebar tanpa didahului identifikasi sumber. Diperparah lagi dengan tidak adanya pendapat kedua tentang panduan penggunaan informasi anonim yang telah diperoleh.

Laporan yang menonjol ataupun kisah-kisah sensasional dari sumber-sumber anonim kadang-kadang tidak terbukti benar. Contoh terdekat adalah laporan kasus pembunuhan O.J Simpson. Dikatakan bahwa masker ski yang penuh darah ditemukan di tempat kejadian perkara. Selain itu disebutkan juga oleh KNBC (merujuk dari sumber anonim), bahwa alat pembunuhan yang digunakan adalah perangkat militer untuk menggali. Sementara Jaksa Clark mengatakan pada pengadilan bahwa tidak ada masker ski. Pemeriksaan medis juga menyatakan kalau pembunuhan dilakukan menggunakan pisau. Pertama-tama KNBC menanggapi untuk berpegang teguh pada ceritanya, tapi beberapa hari kemudian, dengan penuh malu, pihak KNBC mengakui informasinya tidak sepenuhnya benar. Terang saja ini adalah distorsi yang disengaja. Pendulum kembali berayun.

Bukan Ajang Mengarang
            
Realitas palsu sangat merusak proses pengolahan informasi. Kredibilitas informasi bisa kendur dan menjadi sama sekali tidak layak harga. Evolusi etis semacam ini adalah hari-hari tua yang buruk bagi media. Pada tahun 1979, ketiadaan atribusi hanya jadi penopang bagi orang-orang yang malas untuk memverifikasi informasi dari sumber anonim. Temuan yang sama mungkin tampak pada hari ini. Kebanyakan orang-orang yang tidak ingin namanya dicantumkan adalah karena mereka mengada-ada. Dari hasil survey yang dilakukan American Journalism Review, 81 persen orang menganggap mereka secara inheren tidak dapat dipercaya.
            
Menelaah masalah tersebut, maka sangat perlu untuk kita pahami bahwa sumber-sumber anonim pada umumnya tidak boleh membuat komentar yang merendahkan karakter, reputasi, atau kualitas kepribadian individu lain, atau pernyataan yang menghina institusi. Oleh karena itu sangat dibutuhkan sumber kedua untuk memperkuat sumber anonim dan saling menghubungkan keduanya sebelum sebuah informasi akhirnya dapat disebarluaskan. Sebuah informasi tidak bisa semata-mata mengandalkan sebuah sumber anonim.

Cara terbaik untuk membuat pembaca percaya pada cerita yang dituliskan adalah menempatkan nama diiringi fakta-fakta, kecuali bagi pelapor tuduhan pelecehan seksual atau peniup peluit kasus kejahatan yang signifikan. Untuk dua hal tersebut, pembenaran substansial untuk menggunakan informasi tanpa atribusi masih bisa ditolerir.

Sadar Tanggung Jawab

Tugas utama dari menyebarkan informasi adalah menyajikan informasi faktual yang tidak dibuat-buat. Sebelum memutuskan menggunakan sumber-sumber anonim, kita harus menekan keras setiap apa informasi yang mereka ketahui dan bagaimana mereka bisa mengetahui itu−dan kita harus menggali lebih dalam rincian deskripsi tentang siapa dan apa motivasi mereka. Apakah dia ada di ruangan saat pertemuan yang dibicarakan berlangsung? Apakah ia memiliki salinan laporan? Apakah dia berpartisipasi aktif saat kejadian? Kita jelaskan secara efektif untuk mengidentifikasi orang itu dan setiap detail biografi lainnya yang membantu pembaca untuk mengevaluasi kredibilitas sumber tersebut. Tujuannya adalah memberitahu pembaca mengapa kesaksian orang yang bersangkutan layak dikutip.

Langkah-langkah tersebut diatas juga termasuk ke dalam pencerahan publik sebagai pelopor keadilan dan fondasi demokrasi. Tentunya kita ingin menerima informasi dari orang-orang yang menjalankan kegiatannya dengan ketelitian dan kejujuran dan bebas dari kepentingan yang berkompromi dengan integritasnya, selain kepentingan hak publik untuk tahu sebagai proritas mutlak. Selain itu, langkah paling penting untuk mencari keadilan diawali dengan banyak bertanya−yang akan menghasilkan pemandangan dari dua belah pihak divergen, perspektif jangka panjang, dan penilaian beralasan terhadap pandangan orang lain.
read more

Joe Harnell - The Lonely Man

I started piano lessons when I was 6 years old. In fact playing piano has always been my achilles' heel, but my father was an art junky. He really tried so hard to find and explore his children's fascination over music. For quite a long time I sunk my teeth into that instrument, but when I was in high school I decided to 'prefer' guitar over piano.

A week ago, I watched one of Family Guy's episode which is titled "wasted talent". In that episode, Peter Griffin turned into a reliable pianist. He played The Lonely Man.




*Ok, enough about Stewie Griffin. Back to The Lonely Man.*

I was like: "Wow, this song is very nice and emotional." The Lonely Man brings chronic loneliness that feels right to me. Immediately, I looked for the song on Youtube.


Then I decided to make my own cover version to bring my piano skill back.


There are still many more million songs that give you eargasm when they're played by piano. At this point, I realise that I should acquire two or three musical skills. Notably, art forms could enhance your memory skill and improve your cognition. It's not distressing like when you 're trying to "make a good-living" anyway, just for the sake of hobbies. :)
read more

Tentang Pasca-kolonial

Source: hermes-press.com


“I wonder what it is you might think about our different worlds. He looked me kind of sideways and said, "Human beings are the only creatures on earth who claim have God and the only living thing that behaves like he doesn't got one. Does the world belongs to no one but you?" And when he said it, I was taking a back. Not because of who was doing the talking. Because I finally understood the connection; between children's scavenging for food and the shiny brass plagues on the front doors of banks.”
 – The Rum Diary – 


            
Mengapa politik kemerdekaan Indonesia tidak menghasilkan kesejahteraan seperti yang terjadi di negara-negara maju lain? Itu karena tidak ada kerusakan fatal pada silsilah “kerajaan” kolonial. Penjajah selalu dianggap memiliki warisan sejarah yang sarat dengan beberapa hal baik yang tidak mungkin dibuang dengan mudah.

Indonesia di pertengahan abad XX merupakan serpihan komposit kapitalisme dunia, dimana sarjana borjuis mendesain hukum dari sudut pandang kontemporer Ratu Belanda, salah satu penggaung imperialisme yang begitu berpengaruh di dunia. Padahal di zaman kekuasaannya, imperialis (atau pencaplok, perampok, predator) menimbulkan kompleksitas ekstrem pada proposisi fenomena sosial masyarakat Indonesia. Tapi pemerintah senantiasa mengikuti sepak terjang kolonial, mulai dari pengelolaan pendidikan, pekerja, sampai ke pengembangan infrastruktur. Tidakkah mereka tahu, ada bencana tak terhitung yang menanti di balik itu?

Eksploitasi Lintas Benua

Perkembangan infrastruktur selalu diiringi dengan peningkatan indeks perdagangan dunia yang mencolok. Di zaman kolonial, kereta api jadi komponen vital yang memperlancar distribusi pertambangan. Infrastruktur berkaitan langsung dengan industri skala besar, monopoli, kartel, sindikat, bank, dan monopoli keuangan ala kolonial. Sebagai benang kapitalis yang sebenar-benarnya, infrastruktur telah dikonversi menjadi alat untuk menindas jutaan ribu orang di suatu negara yang bergantung pada upah para budak kapital yang bekerja untuk negara “beradab”. Mayoritas penduduk tercekik oleh kondisi keuangannya karena ulah segelintir negara “maju”.

Keadaan tidak membaik pasca perang (momentum kemerdekaan) – bahkan cenderung brutal, karena “jarahan” negara yang kalah perang harus dibagi tiga (Amerika, Inggris, Jepang). Hal itu dijewantahkan dalam suatu perjanjian yang didikte kaum republik Amerika dan liberal Inggris. Keduanya adalah majikan dari para kuli reaksioner, borjuis demokrat, atau pasifis sosialis. Mungkin isi perjanjian terkesan mulia, tapi sesungguhnya ada pesan tersirat yang menyatakan bahwa perdamaian dan reformasi hanya dimungkinkan terjadi jika berada di bawah imperialisme.

Para imperialis sadar bahwa pada kondisi itu kekuatan-kekuatannya terjebak pada dua front: konfliknya dengan pekerja dan konfliknya dengan gerakan pembebasan kolonialisme luar negeri. Karenanya, mereka mengarahkan masyarakat kolonial agar bersekutu untuk melawan imperalis di rumah sendiri. Mereka mengutip angka-angka statistik untuk mendukung pencitraan manusiawi-nya. Mereka tidak melakukan tindakan yang dapat memprovokasi masyarakat berperang dengan kolonial, karena itu sama saja menghambur-hamburkan keuntungan yang disiapkan demi kelanjutan rezimnya.

Sayangnya, sejumlah tokoh yang seharusnya mampu memahami kepentingan terselubung di balik itu malah mengalami pembusukkan pemikiran dan tertawan oleh prasangka baik terhadap ideologi demokrasi borjuis. Mereka malah bersatu dengan borjuis dalam kancah politik praktis menjadi oportunis ekstrem.

Dengan kekacauan tersebut, Indonesia sekarang jatuh dalam jebakan neo-kolonialisme, suatu keadaan yang paling membahayakan. Indonesia pada abad IXX hingga XX awal adalah salah satu wilayah kolonial. Setelah jadi wilayah independen, kolonialisme kuno tidak sepenuhnya dihapuskan. Harta peninggalan kolonial kuno lekas menemukan jalan pulang ke kantong kaum kapitalis dan bukan ke kantong orang-orang pekerja, suatu bentuk kolonialisme baru yang mungkin lebih halus dan cenderung berlama-lama. Tapi perlu diingat mereka tidak mencari koloni baru. Setelah tidak ada sesuatu pun yang dapat dieksploitasi, mereka akan meninggalkan Indonesia dalam keadaan kering dan luar biasa miskin.

Cagar Alam Kapitalisme

Secara kasat mata, Indonesia mandiri dan memiliki segala perangkat kedaulatan nasional, tapi pada kenyataannya, demarkasi intervensi negara lain makin kabur. Kebijakan ekonomi dan politik diarahkan dari luar. Indonesia terikat pada suatu konsorsium agar proses bernegara tetap berjalan, “anak titipan” dari luar ditaruh di posisi manapun agar mereka bisa mendikte kebijakan, keadaan moneter dikendalikan dengan sistem perbankan. Perjuangan melawan kolonialisme sengaja dibangun di ibukota negara berkembang dan bukan di ibukota negara maju, dengan tujuan supaya negara berkembang tidak ikutan menindas menggunakan kekuatan keuangannya untuk memiskinkan negara yang kurang berkembang.

Jika Indonesia ingin menggabungkan diri dengan negara kuat, ia harus menjual produk primer sesuai harga yang ditetapkan negara-negara maju, begitu juga manufaktur yang ia beli harus sesuai harga yang ditetapkan oleh negara maju. Ia harus mengurangi minat untuk mengembangkan pendidikan dan harus menggenjot daya tawar-menawar pekerja yang akan dipekerjakan di perusahaan asing, persis mengikuti pola kolonialisme. Singkat kata, sistem neo-kolonialisme yang dilembagakan telah menjadi suatu kekuatan mengerikan.

Suatu negara dalam cengkeraman neo-kolonialisme tidak menguasai nasibnya sendiri. Mereka tidak diizinkan memiliki senjata pemusnah massal yang dapat meruntuhkan blok-blok kekuatan besar. Alasannya, hal itu bisa menimbulkan perang baru di seluruh dunia.  Padahal kita saksikan sendiri, keamanan (sebagai implikasi pembatasan konflik militer) justru menjadi tempat berkembangbiak neo-kolonialisme.

Di negara-negara kuat, pembatasan konflik militer diberlakukan mengingat komitmen untuk “menjaga perdamaian”. Dengan demikian, bagi mereka, perang bukan solusi utama. Dengan perang yang terbatas, hasil yang didapat akan terbatas pula. Alasan negara-negara semisal Amerika begitu bergantung pada menteri pertahanan dan keamanan dalam negeri adalah karena hanya tentara yang bisa mengamankan hasil yang sudah terjanjikan.

Resolusi

Neo-kolonialisme adalah suatu daya tanpa pertanggungjawaban terhadap orang-orang yang menderita karena dampaknya, sebuah eksploitasi tanpa ganti rugi. Ia adalah bentuk terburuk imperialisme. Pada zaman kolonialisme kuno, mereka yang melayani penguasa setidaknya mendapat perlindungan dari bahaya-bahaya yang ditimbulkan lawan. Tapi dalam neo-kolonialisme, yang terjadi adalah upaya untuk mengekspor konflik sosial dari negeri-negeri kapitalis. Ketika negeri kapitalis gagal, negara-negara berkembang di dunia menjadi pihak utama yang merasakan dampak dari kegagalan neo-kolonialisme yang fatal.

Cara mengakhirinya adalah masalah yang harus dipelajari. Faktor geografi, geopolitik, dan pra-kolonial masa lalu penting untuk diperhatikan. Memang tidak bisa dipungkiri, peningkatan investasi dengan neo-kolonialisme agak mengurangi kesenjangan antara negara kaya dan miskin di dunia. Kita tidak mungkin kembali ke situasi sebelum perang dimana ada sebuah jurang besar antara orang kaya dan orang miskin. Kita juga tidak mungkin kembali ke masa peperangan dimana jumlah pengangguran membludak dan tingkat kematian tinggi. Keberadaan negara sosialis juga tidak memungkinkan untuk dapat meruntuhkan kekakuan sistem neo-kolonialis karena kesuksesan kampanye “bahaya subversif komunis”.  Di sisi lain, kini sudah terlalu terlambat untuk berkonsultasi dengan penulis klasik Marxis.

Tapi untuk langkah pertama, kita bisa merancang suatu tatanan demokrasi yang tidak berfungsi dua kaki, yang dapat membongkar kepalsuan pandangan dan harapan pasifis sosialis akan “demokrasi dunia”, yang bisa membuka mata puluhan juta orang yang tertindas, ditindas, tertipu, dan ditipu para borjuis. Kita akan mengekspos besar-besaran kebangkrutan moral dan pengkhianatan memalukan para pejabat yang terlibat dengan borjuis bersangkutan. Kita singkirkan kepentingan-kepentingan pribadi seseorang dalam membuat kebijakan demi prinsip nemo iudex sua causa. Ciptakan sebuah kepemimpinan Indonesia yang mengarahkan kebijakan ekonomi dan politik sesuai dengan rencana sosial untuk kepentingan bangsanya sendiri, yang tidak sibuk memikirkan berapa jumlah yang investor mesti terima melalui investasinya. Semuanya bisa terwujud jika kita bergabung bersama-sama.
read more

Nilai-nilai Kebebasan dan Prinsip HAM: tantangan demokrasi



Saya tidak mengekor komunis yang gila kontrol, tidak juga tunduk pada new world order dengan diktum federalisme tingkat dunia-nya, tapi pada nilai-nilai kebebasan, dimana eksistensi individu, distribusi kesejahteraan, dan ekuitas hak-hak sipil dan politik hidup secara damai.

Dalam dunia komunisme, ide tentang nilai sesuatu bergantung pada komite perencanaan pusat atau setidak-tidaknya birokrasi yang memiliki kontrol. Kekuatan itu terlegitimasi oleh berkah yang diberikan perumus konstitusi.

Menelusuri jalannya peristiwa di Prusia, demi efisiensi dan mempromosikan kepentingan sosial (ekspansi kebijakan), pejabat berwenang di Prusia menganggap memiliki hak untuk mengendalikan perekonomian bangsa. Mereka tidak percaya terhadap pasar bebas, dimana fluktuasi dan perubahan terjadi secara tak terduga. Prusia menjadi satu pabrik raksasa, dimana semua orang bekerja untuk pemerintah. Kolektivisme dimaknai sebagai pengkonsentrasian rakyat, dibanding pengkonsentrasian tujuan.

Padahal menurut salah satu pemikir ekonomi, Karl Menger, nilai intrinsik nyata sebuah ilusi, karena penilaian terhadap sesuatu bergantung pada apa yang terjadi di luarnya. Inilah yang dikesampingkan oleh Prusia pada masa itu.

Mungkin kendaraan menuju distribusi kesejahteraan dilengkapi onderdil bernama “hati nurani”, tapi pada akhirnya akan menjadi kendaraan yang berjalan menuju kebangkitan Nazi atau tirani. Prusia justru terjerembab menjadi suatu wajah birokrasi yang gila kontrol. Apa yang tidak dapat mereka kendalikan ingin mereka kendalikan, dan apa yang sudah berada di bawah kontrol mereka ingin semakin mereka kontrol. Mereka terkesan menutup peluang pasar bebas karena takut atau tidak percaya diri untuk bersaing di bursa pasar.

Lalu bagaimana dengan new world order? New World Order makin populer sejak didengungkan oleh Nelson Rockefeller. Mungkin sulit dipercaya - meskipun Rockefeller berhasil naik menjadi gubernur karena benih-benih kapitalisme, tapi dia begitu bersemangat mengkampanyekan federalisme tingkat dunia. Dia tidak sendiri, aktor kunci yang bermain di baliknya adalah John Dewey, Imam besar dunia pendidikan Amerika.

Kampanye itu disambut baik oleh para aktivis liberal kiri. Lagi-lagi suatu diktum “gila kontrol”. Penyakit itu ditularkannya kepada tunas-tunas muda, dengan penanaman nilai-nilai motivasi bahwa mereka punya tanggung jawab untuk membangun tatanan masyarakat dunia yang ‘lebih baik’. Di satu sisi, mereka dicekoki angan-angan untuk menjadi sekelompok orang Beamtenstaat - pengerat yang seharusnya dipersona-non-grata-kan atau bahkan dijebloskan dalam gulag.

Tapi, hak asasi manusia tidak seperti itu. Alih-alih bicara tentang power and control, HAM lebih suka bicara tentang ekuitas dalam akses hak sipil dan distribusi kesejahteraan. Termasuk tidak memilih mana orang yang mereka inginkan dan mana yang tidak. Secara teoritis seperti itu.

Dalam dunia perekonomian mereka menerima relevansi teori nilai subjektif, dimana nilai barang dan jasa bergantung pada kelimpahan, kelangkaan, dan permintaan, sehingga semua orang memiliki kesempatan untuk mengakumulasi aset finansial dalam koridor lump sum di segala interval usia. Tidak oleh ekonomi yang sepenuhnya terstruktur yang dimana birokratnya diam-diam bermain dengan swasta, dan dalam langkah prospektif menjadi penganut beamtenstaat monarkial.

Pemilu sebagai pasak demokrasi
HAM tidak kenal monarki, tidak juga mengenal dinasti tempat terbukanya kesempatan eksploitasi segala tindak kejahatan. Hak sipil dan hak politik memungkinkan adanya pemilihan, agar kehendak kedaulatan rakyat tidak tersublimasi, melainkan terjewantahkan untuk menentukan lanskap pemerintahan demokratis yang akan dibentuk. Pemilu membebaskan rakyat. Pemilu mencerdaskan rakyat secara politik. Pemilu membuat rakyat merasa aman karena kerahasiaan dan kesucian suaranya dijamin oleh instansi bersangkutan untuk melindungi kebebasan berekspresi pemilih.

Namun terlepas dari kemurnian pemilu, jika pemilu hanya untuk pencitraan semacam kepura-puraan demokrasi dibalik “Prussianisme”, maka yang ada hanyalah penipuan, pembelian suara, dan kampanye hitam. Sub-problematika turun-temurun.

Ada banyak yang harus dilakukan. Mengajak badan-badan pemerintah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, LSM atau bahkan media untuk mengusung pemilu yang mencerahkan - tidak hanya wawasan teknis tapi juga menguasai wawasan politis yang konstruktif. Karena bagaimanapun, pemilu bukan hanya sekadar pesta demokrasi, tapi lebih kepada jajak pendapat untuk menentukan pemerintah resmi. Pemerintah yang memiliki tanggung jawab di bawah hukum nasional untuk menjadi pemerintah yang bersih, jujur, dan kredibel dalam mengelola perekonomian dan tata pemerintahan terbuka dan integratif.
read more
 
 
Copyright © Niken Supraba | Electric Light Bulb